;)Orang-orang bertanya mengapa saya menulis se rial kepahlawanan mi? Biasanya, saya akan terdiam. Sebab, memang tidak ada alasan yang terlalu jelas. Yang saya rasakan hanyalah dorongan naluri; bahwa negeri mi sedang melintasi sebuah persimpangan sejarah yang rumit, sementara perempuan-perempuannya sedang tidak subur; mereka makin pelit melahirkan pahlawan. Saya tidak pernah merisaukan benar krisis yang melilit setiap sudut kehidupan negeri mi. Krisis adalah takdir semua bangsa. Apa yang memiriskan hati adalah kenyataan bahwa ketika krisis besar itu terjadi, kitajustru mengalami kelangkaan pahlawan. Fakta mi jauh lebih berbahayn, sebab disini tersimpan isyarat kematian sebuah bangsa. Bangsa Amerika pernah mengalami depresi ekonomi terbesar dalam sejarah dari tahun 1929 hingga 1937. Selang lima tahun setelah itu, tepatnya tahun 1942, merekamemasuki Perang Dunia Kedua; dan mereka menang. Selama masa itu, mereka dipimpin oeh seorang pemimpin yang lumpuh, dan satu-satunya presiden yang pemah terpilih sebanyak empat kali, FD. Rosevelt. Tapi krisis itu telah membesarkan BangsaAmerika; selama masa depresi mereka menemukan teori-teori makroekonomi yang sekarang kita pelajari di bangku kuliah dan menjadi pegangan perekonomianjagat raya. Merekajuga memenangkan PD II dan berkuasa penuh di muka bumi hingga saat mi. Itulah yang terjadi ketika kriris dikeloa oleh tangan-tangan dingin para pahlawan; mereka mengubah tantangan menjadi peluang, kelemahan menjadi kekuatan, kecemasan menj adi harap an, ketakutan menjadi keberanian, dan krisis menjadi berkah. Lorong kecil yang menyalurkan udara pada ruang kehidupan sebuah bangsa yang tertutup oleh krisis adalah harapan. lnilah inti kehidupan ketika tak ada lagi kehidupan. lnilah benteng pertahanan terakhir bangsa itu. Tapi benteng itu dibangun dan diciptakan para pahlawan. Mungkin mereka tidak membawa janji pasti tentang jalan keluar yang instan dan menyelesaikari masalah. Tapi mereka membangun inti kehidupan; mereka membangunkan bara hidup dari kekuatan yang tertidur di sana, di atas alas ketakutan dan ketidakberdayaan. Itulah yang dilakukan Rosevelt. Bangsa yangsedang mengalami krisis, kata Rosevelt, hanya membutuhkan satu hal; rnotivasi. Sebab, bangsa itu sendiri, pada dasarnya, mengetahui jalan keluar yang mereka can. Sebnah kehidupan yang terhormat dan berwibawa yang dilandasi keadilan dan dipenuhi kemakmuran masih mungkin dibangun di negeri mi. Untaian Zamrud Khatulistiwa mi masih mungkin dirajut menjadi kalung sejanah yang indah. Tidak peduli seberapa berat krisis yang menimpa kita saat mi. Tidak peduli seberapa banyak kekuatan asing yang menginginkan kehancuran bangsa mi. Masih mungkin. Dengan satu kata: para pahlawan. Tapi jangan menanti kedatangannya atau menggodanya untuk hadir ke sini. Sekali lagi, jangan pernah menunggu kedatangannya, seperti orang-orang lugu yang tertindas itu; mereka menunggu datangnya Ratu Adil yang tidak pernah datang. Mereka tidak akan pernah datang. Mereka bahkan sudah ada di sini. Mereka lahir dan besar di negeri mi. Mereka adalah aku, kau, dan kita semua. Mereka bukan orang lain. Mereka hanya belum memulai. Mereka hanya perle berjanji untuk merebut takdir kepablawanan mereka; dan dunia akan menyaksikan gugusan pulau-pulau mi menjelma menjadi untaian kalung zamnud kembali yang menghiasi leher sejarah.
Senin, 06 April 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar